Mengupas Mitos dan Fakta Obat Antihipertensi
HUMAS - RSUP Fatmawati
Monday, 20 April 2026 11:11 WIB
Gambar dari HUMAS RSUP Fatmawati
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular, seperti stroke dan penyakit jantung. Penyakit ini termasuk gangguan kardiovaskular yang paling sering terjadi di masyarakat dan menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia setiap tahunnya (Kemenkes RI, 2019; Fikri et al., 2025). Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari sama dengan 140 mmHg dan diastolik lebih dari sama dengan 90 mmHg. Prevalensi hipertensi di Indonesia menurut Riskesdas tahun 2013 (25,8%) meningkat pada tahun 2018 (34,1%) dimana kerjadian paling besar pada usia >60 tahun (Kemkes, 2021). Namun menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran tensimeter sebesar 10,7% pada kelompok usia 18–24 tahun dan 17,4% pada kelompok 25–34 tahun. Mengupas mitos atau fakta seputar obat anti hipertensi, sehingga masyarakat memahami penggunaan yang benar tentang obat anti hipertensi. Ada beberapa mitos yang salah tentang obat antihipertensi, yaitu: Obat hipertensi dapat merusak ginjal, Jika tekanan darah normal, bisa berhenti minum obat dan Cukup minum obat, gaya hidup tetap sama. Obat hipertensi merusak ginjal adalah mitos, faktanya => Hipertensi yang tidak terkendali akan merusak ginjal. Obat antihipertensi akan melindungi ginjal dari kerusakan lebih lanjut. Hipertensi yang terjadi terus-menerus dan tanpa pengobatan akan menyebabkan komplikasi berupa glomerulosclerosis (gangguan pada unit penyaring darah di ginjal), komplikasi ini akan memperparah kejadian hipertensi yang sudah ada karena terjadi resistensi pembuluh darah ke ginjal yang terus-menerus atau kekurangan asupan darah pada bagian ginjal yang rusak. Tekanan darah normal, bisa berhenti minum obat adalah mitos, faktanya : Hipertensi adalah penyakit kronis. Tekanan darah yang sudah normal menunjukkan obat bekerja dengan baik. Jika obat dihentikan, tekanan darah biasanya akan naik kembali. Pengobatan hipertensi harus dilakukan secara berkelanjutan dan dalam jangka waktu yang lama hingga tekanan darah dapat terkontrol, walaupun keluhan sudah hilang untuk meningkatkan kualitas hidup. Hipertensi seringkali disebut silent killer karena tidak adanya gejala dan tanpa disadari penderita mengalami komplikasi pada organ-organ vital. Cukup minum obat , gaya hidup tetap sama Adalah mitos, faktanya => Obat hanya mengontrol bukan menyembuhkan. Jika pola hidup tidak diperbaiki (tidakmembatasi asupan garam, kurang akivitas fisik, atau merokok), tekanan darah tetap sulit terkontrol meskipun sudah minum obat. Faktor resiko seperti Merokok, stres, konsumsi garam berlebih, makanan kadar kolesterol tinggi, obesitas dan kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan tekanan darah serta merusak pembuluh darah. • Zat dalam rokok (nikotin, tar dan karbon monoksida) dapat merusak arteri dan menurunkan kemampuan darah membawa oksigen. • Stres dapat memicu pelepasan adrenalin yang mempercepat kerja jantung sehingga tekanan darah naik. • Asupan garam berlebih dapat menyebabkan penumpukan cairan yang meningkatkan tekanan darah, sedangkan kolesterol tinggi memicu penyempitan pembuluh darah. Sebaliknya, aktivitas fisik atau olahraga teratur membantu menurunkan tekanan darah, memperbaiki fungsi jantung, serta meningkatkan keseimbangan lemak darah (menaikkan HDL dan menurunkan LDL). Namun sejumlah faktor resiko seperti usia, jenis kelamin dan genetik tidak dapat diubah . Dukungan keluarga juga menjadi salah satu faktor penting bagi pasien Hipertensi agar patuh dalam berobat. Pengidap hipertensi penting minum obat darah tinggi untuk mengontrol tekanan darah. Penderita penyakit ini penting mengonsumsi obat tekanan darah tinggi seumur hidup. Sebab, penyakit ini bisa berakibat fatal karena dapat menyebabkan masalah kesehatan serius. Hipertensi bisa menyebabkan stroke, serangan jantung, gagal jantung dan penyakit mematikan lainnya .
Halaman Highlights